Meresahkan, Pemerintah Akan Blokir 30 Juta Konten Pornografi di Dunia Maya

JAKARTA, ADATERUS.COM- Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan melakukan pemblokiran terhadap 30 juta konten yang berbau pornografi yang banyak beredar di dunia maya. Sejauh ini baru bisa mengahapus 700 ribu konten dengan menggunakan system ‘Crawling’.

Disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan. Menurutnya, melalui sistem Crawling, Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan 30 juta konten pornografi bisa ditutup. “Target 30 juta, insyallah saya fokus,” ujar Semuel di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (9/10).

Sistem crawling kata Semuel berbeda dengan manual sebelumnya. Dimana sistem tersebut menerima semua laporan masyarakat dari situs pengaduan “Trust Positif”. “Sistem ini nantinya akan membaca konten apa saja yang bisa diakses oleh pengguna internet dan kemudian memberikan laporan untuk nantinya dianalisis kembali,” ujarnya.

Dijelaskan jika sistem itu akan menganalisa dan memblokir otomatis jika masuk ke dalam konten negatif. Hal itu menurut Semuel akan berjalan lebih cepat dibandingkan menggunakan sistem manual yang harus dicek kontennya satu persatu. “Selama ini crawling kami lakukan secara manual. Banyak waktu yang terbuang,” ungkap Semuel.

Lebih lanjut Samuel menjelaskan jika konten ini bisa terpasang dan dapat dioperasikan 2018 mendatang. Karena penyebaran konten pornografi ini dinilai kian meresahkan. “Kejahatan seks mulai tinggi. Dari 28-30 juta web pornografi, kita baru bisa blokir 700 ribu diantaranya,” ujarnya.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan Semuel adalah kasus kejahatan paedofilia yang menyebar lewat internet baru-baru ini. Kominfo juga prihatin atas tingginya jumlah situs yang bermuatan pornografi. Sebab, puluhan juta web pornografi tadi bersembunyi di balik miliaran nama domain alias.

Sehingga, dengan adanya mesin penyaring konten negatif ini diharapkan Kominfo bisa bergerak lebih cepat untuk membatasi konsumsi konten tersebut. Lebih lanjut, Semuel juga menyebutkan kalau penyedia OTT (over the top) media sosial seperti Facebook dan Twitter juga mesti turut aktif melakukan penyaringan konten negatif di platform mereka.

“Kalau kita temukan dan kita minta mereka take down tapi tidak dilakukan, mereka bisa kena sanksi penutupan karena dianggap ikut menyebarkan konten negatif,” tambahnya lagi.

Ia pun mencontohkan bahwa sanksi untuk pelanggaran ini juga sudah menjadi masalah serius di berbagai negara. “Di Jerman, dendanya bisa mencapai 50 juta euro. Maka di Indonesia platform juga mesti patuhi aturan yang ada,” tandasnya.

Semuel menargetkan pihaknya bisa memberantas setidaknya setengah dari 30 juta web porno itu pada 2018. “Kalau bisa sih sudah terberantas semuanya tahun depan,” imbuhnya

Untuk diketahui PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) telah memenangkan pengadaan mesin sensor internet bermuatan negatif tersebut. Selanjutnya mulai 31 Desember 2017, sistem pencegahan konten pornografi ini akan bisa bekerja secara otomatis.(OTK)