Pergantian Panglima TNI Belum Waktunya, Jokowi Lakukan Manuver Tidak Elok

JAKARTA, ADATERUS.COM- Masa pensiun awal bulan April, tapi Presiden Joko Widodo mengganti Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo bulan ini dinilai sebagai manuver politik yang tidak elok. Seperti dikatakan oleh Faizal Assegaf, Ketua Progres 98.

Menurutnya langkah presiden Joko Widodo mempercepat proses pergantian Jenderal Gatot Nurmantyo dari jabatan Panglima TNI, patut dicermati sebagai manuver politik yang tidak etis. “Andai hubungan Jokowi dan Gatot berjalan mesra, saya kira proses pergantian Panglima TNI akan dibuat elegan, bermartabat dan tanpa tendensi,” kata Faizal dalam keterangan pers yang diterima Adaterus.com, Selasa (5/12).

Faizal menjelaskan jabatan Gatot berakhir pada bulan Maret 2018, namun, desakkan memecat Gatot terus-menerus digulirkan oleh PDIP dan kelompok kontra TNI pada Desember 2017. “Hal itu memberi indikasi kuat bahwa Jokowi bertindak atas tekanan kekuatan terkait di lingkaran istana. Tentu akan memicu eskalasi politik jelang Pilpres 2019,” paparnya.

Terlebih kata Faizal belakangan Istana mencurigai Gatot dekat dengan Islam dan merupakan jenderal titipan SBY, serta sangat loyal pada Prabowo Subianto. “Lebih memprihatinkan Gatot difitnah telah merencakan kudeta melalui penggalangan kekuatan massa Islam dalam aksi 411 dan 212 di akhir tahun 2016,” tegas pria yang punya suara lantang ini.

Dia menilai, pergantian cepat ini sangat tidak elok. Jokowi menurutnya memanfaatkan dinamika politik yang tidak sehat tersebut untuk mempercepat pencopotan Gatot. Suka atau tidak bakal menimbulkan problem krusial dan sudah pasti memicu prahara politik nasional.

“Sebaiknya, DPR dan Presiden Jokowi menahan diri, biarkan saja pergantian Gatot berjalan nomatif pada Maret nanti. Sehingga pergantian Panglima TNI tidak terkesan Gatot disepak mirip Anies diusir dari Kabinet,” tandasnya.

Jenderal Gatot sendiri mengaku legowo dengan pergantian ini. Dia mengatakan dirinya mengucapkan syukur alhamdulillah, bahwa sebagai seorang prajurit pasti punya mimpi tinggi, mimpi menjadi Panglima TNI. Semua prajurit menginginkan, apalagi perwira. “Dan saya bisa terwujud mimpi itu, karena saya jadi Panglima TNI, yang melantik saya adalah Pak Jokowi, itu saya bersyukur,” ujar Jenderal Gatot.

Kedua, Jenderal kelahiran Tegal Jawa Tengah juga bersyukur bahwa Presiden telah menentukan penggantinya, dan penggantinya ini, seperti disampaikan, dipersiapkan untuk menghadapi tantangan tugas ke depan. Tantangan tugas ke depan adalah tahun politik.

“Dari tiga kepala staf angkatan, yang memenuhi syarat, menurut saya, sebagai tahun politik, pertama KSAL bulan Mei pensiun, kalau jadi Panglima TNI kan cuma sebentar. KSAD Januari 2019-an (pensiun). Nah, KSAU ini (masa jabatannya) sampai 2020, sehingga bisa memimpin TNI menghadapi tahun politik dengan lancer,” ungkapnya.

Seraya mengucapkan terima kasish atas langkah-langkah yang sudah dilakukan Jenderal Gatot menyarankan begitu sudah diputuskan oleh DPR bahwa disetujui, jangan lama, jangan menunggu sampai dirinya paraf lagi. Mengapa demikian? Karena ini terjadi dualisme, hanya tinggal satu langkah keppres saja. “Jadi saya kerja juga pekewuh, Pak Hadi juga gimana. Lebih baik efektif saja, begitu selesai, mungkin satu minggu, lima hari, saya pamitan,” tegasnya.