Ternyata TKA Asal China Tidak Bisa Bekerja, Skillnya Kalah Sama TK Lokal

JAKARTA, ADATERUS.COM- Banyaknya Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China bukan lagi hisapan jempol. Setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla berkomentar soal TKA asal China, kini Wakil Ketua DPR RI, Agus Hermanto pun angkat bicara. Menurutnya, TKA asal China ini tidak bisa apa-apa. Skil kerjanya kalah jauh dengan tenaga kerja lokal.

Agus mengatakan tenaga kerja dari China ini kebanyakan bukan tenaga ahli. Artinya pekerjaan yang dilakukan mereka masih banyak dapat dilakukan tenaga kerja lokal. “Memang kalau kita lihat secara kasat mata banyak sekarang ini tenaga-tenaga asing, khususnya dari Cina yang tidak punya keahlian,” kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

Bagaimapun SDM dalam negeri, menurut Agus, memang perlu diprioritaskan. Kemenaker, jelas dia, harus bekerja keras apalagi yang memberikan sinyalemen soal serbuan TKA Cina ini adalah Wapres Jusuf Kalla. Sebab secara kasat mata, serbuan ini memang terlihat.

Tentunya Kemenaker juga bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian maupun Kementerian perdagangan. Sehingga, kata dia, bisa lebih mengutamakan tenaga kerja lokal selagi memang bisa ditangani oleh pekerja dalam negeri sendiri.

Serbuan tenaga kerja Cina di Indonesia tidak bisa dihindari. Ini terjadi Pemerintah Indonesia mempererat kerja sama ekonomi dengan Cina di mana banyak proyek-proyek nasional dibiayai Cina. Sebagai konsekuensi, Cina meminta tenaga kerjanya masuk dan bekerja di Indonesia.

Sebagai negara yang mengandalkan ekonominya dari mesin pertumbuhan yang saat ini turun, Cina berkepentingan menjaga gelombang pengangguran. Makanya, kebijakan memberi bantuan ke negara lain pun selalu disertai dengan pengiriman tenaga kerja terutama yang tidak memiliki keahlian.

Sebelumnya, Wapres Jusuf Kalla mengatakan China jangan membawa tenaga kerja terlalu banyak. “Saya katakan tadi, investasi Anda (Cina) bagus. Cuma, jangan terlalu banyak bawa tenaga kerja,” ujar Kalla.

Menurut Wapres, apabila ada investasi Cina, ribuan TKA asal Cina turut serta dibawa. “Saya bilang jangan begitu,” kata dia.

Seharusnya, sambung Wapres, tenaga kerja Indonesia dilatih terlebih dahulu. Bisa di Cina ataupun Indonesia. “Dan dia (Wakil PM Cina) setuju menggunakan tahap-tahap itu,” ujar politikus senior Partai Golongan Karya ini.

Wapres mengakui, pada dasarnya, hubungan Indonesia dan Cina saling membutuhkan. Cina membutuhkan pasar yang besar dan Indonesia memiliki itu. Selain itu, dibutuhkan juga hubungan antara people to people dan investasi di berbagai bidang.

Dalam pertemuan tersebut, Wapres menjelaskan, Wakil PM Cina juga mengungkapkan hasil kongres Partai Komunis Cina. PKC berkeinginan menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai negara terkuat di dunia melewati Amerika Serikat. “Itu yang digambarkannya dan ingin kerja sama di Indonesia dengan baik,” kata dia.

Berdasarkan data, Cina merupakan salah satu mitra utama ekonomi Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara pada Januari-Agustus 2017 mencapai 35,79 miliar dolar AS. Nilai ini meningkat 23,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sektor pariwisata, Cina kini penyumbang wisatawan mancanegara terbesar ke Indonesia dengan jumlah kunjungan 1,42 juta orang pada Januari-Agustus 2017. Cina melampaui Singapura dan Australia yang kerap menduduki posisi teratas kunjungan wisman ke Indonesia.

Sepanjang Januari-September 2017, investasi Cina mencapai 2,73 miliar dolar AS atau meningkat 80 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016. Cina menjadi investor asing terbesar ke-3 di Tanah Air.

Isu TKA asal Cina menjadi perbincangan publik secara besar-besaran pada tahun lalu. Sampai-sampai Presiden Joko Widodo harus mengklarifikasi isu yang menyebutkan ada jutaan TKA asal Negeri Tirai Bambu itu. Menurut Presiden, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), jumlah TKA asal Cina hanya 21 ribu orang. Jumlah itu lebih kecil dibandingkan TKI di Malaysia (2 juta orang) dan di Hong Kong (153 ribu orang).

Presiden mengakui, pemerintah memiliki target mendatangkan 10 juta wisman asal Cina. Namun, dia menyayangkan ada pihak-pihak yang memelintir hal ini. Menurut Presiden, secara logika, tidak mungkin banyak TKA Cina yang mau bekerja di Tanah Air karena gaji di negara itu lebih baik dibandingkan di Indonesia.