Keselamatan Penerbangan Naik, Maskapai Luar Negeri Minta Tambah Rute

JAKARTA, ADATERUS.COM- Naiknya peringakat Indonesia dalam daftar audit keselamatan penerbangan yang dilakukan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) membuat Indonesia kebanjiran pemerintaan dari maskapai penerbangan internasional yang ingin memperluas rute ke Indonesia.

Seperti disampaikan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi saat menghadiri Indonesia Economic Forum (IEF) di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (23/11). “Itu menjadikan persepsi internasional ke kita baik, orang pasti datang semua ke sini,” kata Budi Karya seperti dikutip dari Tempo.co.

Dari penilaian ICAO yang dirilis pada pertengahan November 2017, Indonesia menempati peringkat 55 dari 191 negara dengan nilai pemenuhan di atas rata-rata dunia, yaitu 81,15. Hal ini pun membuat Indonesia menduduki posisi kedua di tingkat ASEAN, hanya kalah dari Singapura.

Budi tak menampik bahwa hasil ICAO itu mengurangi potensi munculnya larangan terbang ke tanah air. “Otomatis (tak ada larangan), semua penerbangan kita boleh. Banyak yang apply (mendaftar) masuk Indonesia,” ujarnya.

Permintaan perluasan rute, kata dia, banyak datang dari negara-negara di Timur Tengah. “Banyak sekali yang aplly ke saya, cuma kita manage. Jangan sampai kebanyakan yang masuk,” ujar Budi.

Posisi Indonesia naik jauh dari tahun sebelumnya, yakni peringkat 151 dengan nilai pemenuhan standar keselamatan hanya 51,61 persen. Dengan capaian baru pada audit Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) atau Audit Keselamatan Penerbangan ini tahun ini, keselamatan penerbangan di Indonesia sudah melampaui standar yang ditetapkan ICAO, yaitu sebesar 64,71 persen.

Sebelumnya Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso menyebutkan dari 191 negara yang tergabung di ICAO, Indonesia saat ini sudah berada di peringkat 55 dari tahun sebelumnya di posisi 151. “Loncatannya luar biasa melewati 90 negara,” katanya, Kamis, 16 November 2017.

Agus menjelaskan banyak upaya yang dilakukan oleh pihak regulator dan operator di industri penerbangan Indonesia untuk mendongkrak posisi dari tahun sebelumnya, yakni peringkat 151, dengan nilai pemenuhan standar keselamatan hanya sebesar 51,61 persen.