Gatot Nurmantyo: Rakyat Adalah Ibu Kandung TNI Polri, Jangan Disakiti

JAKARTA, ADATERUS.COM- Kecintaan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo kepada rakyat tidak perlu diragukan lagi. Saking cintanya kepada rakyat, Gatot meminta agar seluruh komponen bangsa termasuk TNI dan Polri untuk bersama-sama melayani rakyat dengan baik. Bagi Gatot rakyat adalah Ibu Kandung TNI Polri, sehingga tidak boleh sedikit pun untuk tersakiti. Apalagi kata Gatot, bangsa Indonesia merdeka atas seluruh perjuangan rakyat Indonesia.

“Yang melahirkan bangsa ini adalah rakyat, maka rakyat adalah Ibu Kandung TNI Polri, jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat. Masa ibu kandungnya disakiti. Makanya, Polri dan TNI dimanapun berada harus siap melayani rakyat sebagai ibu kandungnya. Ini harus diingat, tanpa rakyat tidak ada kemerdekaan bagi bangsa ini,” kata Gatot saat memberikan pengarahan kepada TNI Polri di Papua, Ambon dan Lombok, Minggu sd Senin, 19 sd 20 November 2017.

Tanpa rasa lelah usai memberikan penghargaan kepada 58 prajurit TNI dengan kenaikan pangkat luar biasa di Tembagapura, Papua yang berhasil membebaskan sandera dari Gerakan Separatis Bersenjata (GSB). Jenderal kelahiran Tegal 13 Maret 1960 terus menyemangati ribuan anggota TNI Polri dari berbagai kesatuan. Selama satu jam berdiri, Gatot begitu bersemangat dan seluruh anggota TNI Polri yang hadir juga dengan khidmat mendengarkannya.

Selain Ibu Kandung, Gatot mengatakan rakyat Indonesia adalah seorang kesatria yang siap berperang setiap saat. Apalagi jika sudah hargadirinya, kelompok dan jatidiri bangsa dihina. Tanpa berpikir panjang, mereka siap berperang. Karena rakyat Indonesia tidak takut mati.

Dicontohkan Gatot, ciri rakyat kesatria lahir dari kerjaaan Rajagaluh yang rela mati ketika hargadirinya tertindas. Ketika itu Rajagaluh hendak menemui Raja Majapahit dimana sang putrinya akan dipinang oleh putra Raden Wijaya. Di tengah perjalanan, Rajagaluh dicegat oleh Patih Gajah Mada yang meminta agar Rajagaluh tunduk kepada kerajaan Majapahit jika ingin bertemu dengan rajanya. Tidak terima, Rajagaluh pun marah dan tersinggung, mereka berperang yang akhirnya semua pasukan dari Rajagaluh mati, termasuk sang putri yang memilih bunuh diri.

“Itulah jiwa patriot, tidak mengenal pria dan wanita jika dirinya tersentuh dia tidak takut mati, itulah jiwa rakyat Indonesia. Apalagi TNI Polri, saya yakin lebih dari itu. Makanya setiap manusia Indonesia tidak ada rasa takut, ini tentu harus menjadi catatan,” ujar lulusan Akademi Militer tahun 1982.

Gatot kembali memompa semangat para prajurit dengan menyebut selain kesatria TNI Polri adalah keturunan patriot. Ciri khas patriot adalah gotongroyong, seperti kemerdekaan bangsa Indonesia direbut dengan cara gotongroyong yang berperang melawan penjajah dengan senjata apadanya, dengan pisau, tombak bahkan hanya dengan bambu runcing rakyat Indonesia mampu mengusir penjajah.

“Ditambah dengan motonya merdeka atau mati, ini bukti jika bangsa patriot punya keberanian dan kemampuan dengan senjata apa adanya dan percaya dengan kemampuan sendiri. Tidak ada Negara lain yang punya moto merdeka atau mati, pilihannya hanya dua tujuan tercapai atau mati,” tandasnya.