Divonis 1,6 Tahun Buni Yani Rela Mati Demi Keadilan

JAKARTA, ADATERUS.COM- Setelah melalui proses persidangan yang panjang, akhirnya Pengadilan Negeri Bandung memvonis Buni Yani 1 tahun 6 bulan. Buni Yani terbukti melakukan tindak pidana terkait Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Meski divonis 1,6 tahun, Ketua Majelis Hakim, M Sapto mengatakan Buni Yani tidak ditahan. “Menimbang bahwa selama persidangan terdakwa tidak ditahan, tidak cukup alasan untuk ditahan, maka terdakwa tidak ditahan,” kata M Sapto dalam sidang di gedung Arsip, Jalan Seram, Bandung, Jawa Barat, Selasa (14/11).

Seusai pembacaan vonis, pengacara Buni, Aldwin Rahadian, sempat mengonfirmasi ulang tentang hal itu. Hakim pun mengamini. “Majelis yang terhormat, karena tadi ribut, kita maaf, saya tidak mendengar perintah apa pun untuk eksekusi, tidak ditahan bukan?” tanya Aldwin. “Ya ya,” jawab hakim.

Dalam Pasal 193 ayat 2 huruf a KUHAP diatur mengenai sebuah putusan pidana yang tidak disertai perintah penahanan. Putusan tersebut tetap sah. Buni Yani bisa ditahan seandainya nanti di pengadilan tinggi atau kasasi, majelis hakim menyatakan Buni Yani bersalah dan memerintahkan penahanan. Apabila dalam banding atau kasasi Buni Yani bebas, tentu saja dia tidak perlu menjalani masa pemidanaan.

Sebelumnya hakim menyatakan Buni terbukti secara sah bersalah melakukan mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik. Hakim menilai Buni terbukti melawan hukum dengan mengunggah video di akun Facebook-nya tanpa izin Diskominfomas Pemprov DKI. Posting-an itu berupa potongan video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 27 September 2016, yang diunggah di akun YouTube Pemprov DKI Jakarta.

Buni pun divonis hukuman pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan. Hukuman ini lebih rendah daripada tuntutan jaksa, yaitu pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Dalam perkara ini, Buni Yani didakwa mengubah video pidato Ahok di Kepulauan Seribu dengan menghapus kata ‘pakai’. Selain itu, Buni Yani didakwa menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian terhadap masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal ini berkaitan dengan posting-an Buni Yani di Facebook
Dukungan terhadap Buna Yani pun terus mengalir di persidangan massa tetap bertahan. Mereka mendesak Buni Yani dihadirkan di tengah massa. “Kami ingin Buni Yani dihadirkan demi memastikan keamanan Buni Yani,” teriak orator.

Massa bertahan di bawah guyuran hujan. Polisi juga tetap bersiaga melakukan pengamanan. Pengacara Buni Yani sempat menemui massa usai sidang. Kepada massa, pengacara menyampaikan putusan hukuman 1 tahun 6 bulan terhadap Buni Yani yang tidak disertai perintah penahanan.

Pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian, memastikan pihaknya akan mengajukan banding atas putusan vonis 1 tahun 6 bulan penjara kliennya. Putusan hakim disebut tidak didasari fakta persidangan. “Sampai kapan pun kita lawan. Vonis hakim mengesampingkan fakta persidangan,” kata Aldwin berorasi.

Aldwin yakin upaya hukum lanjutan yang diajukan mendapat dukungan. Sebab, putusan hakim dinilai tidak adil. “Umat akan bersatu, energi umat akan membesar. Saya sekali lagi menyatakan semakin umat Islam dizalimi merajalela, kekuatan kita semakin besar dan akan ada konsolidasi umat. Sudah jelas Ahok inkrah, yang disampaikan Pak Buni bener nggak menistakan agama? Kenapa yang menanyakan dihukum?” tutur Aldwin.

Buni Yani mengajukan upaya banding karena merasa dikriminaliasi dengan vonis 1,5 tahun penjara atas kasus penyebaran video pidato Ahok di Kepulauan Seribu. Meski begitu, dia sudah siap meski harus dipenjara. Pernyataan tersebut disampaikan Buni Yani di atas mobil komando yang terparkir. Dia berorasi setelah menjalani sidang vonis.

Buni mengatakan dia sebelumnya kerap ditanya wartawan soal persiapannya menyambut vonis hakim. Dia menyatakan, apa pun vonisnya, dia siap. Meski vonisnya ini tanpa disertai perintah penahanan, dia siap-siap saja jika harus ditahan.

“Jangankan penjara, saya sudah mewakafkan nyawa saya, demi perjuangan saya siap mati. Ini bukan gertak sambal, bukan, karena saya tahu nggak punya salah apa-apa jadi saya siap mati,” ujar Buni, yang memakai peci berwarna putih.

Buni Yani menyatakan vonis yang diterimanya adalah bentuk kriminalisasi. Karena itu, dia akan melakukan upaya banding. Dia juga berterima kasih kepada keluarga, tim kuasa hukum, serta para pendukungnya yang setia memberi dukungan sejak awal sidang hingga vonis.