ICMI: Pembelian Bank Muamalat Tak Ada Kaitannya Dengan Lippo

JAKARTA, ADATERUS.COM- Berbagai organisasi Islam terus memberikan suaranya terkait dengan isu pembelian Bank Muamalat oleh Lippo Group. Kemarin, ada dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mengecam kabar Hoax tersebut. Kali ini datang dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang juga menyesalkan isu tersebut.

Disampaikan oleh Wakil Sekjen ICMI, Vasco Ruseimy. Menurutnya, isu pembelian Bank Muamalat oleh Lippo Group tidak benar alias Hoax. Dia meminta agar masyarakat, khususnya nasbah untuk tidak percaya atas isu tersebut.

“Mengenai Pembelian saham Mayoritas Bank Muamalat tidak ada sangkut pautnya dengan LIPPO, sebaiknya masyarakat mulai berpikir cerdas dalam menanggapi hal ini, jangan mudah terpancing HOAX dari sumber sumber yang tidak jelas,” kata Vasco saat dihubungi wartawan, Selasa (10/10).

Vasco mengajak kepada semua kalangan untuk terus mendukung Bank Muamalat sebagai bank syariah yang ada di Indonesia. “Bank Muamalat sebagai pelopor Bank Syariah Pertama di Indonesia seharusnya kita dukung penuh, jangan malah kita melemahkan posisinya,” ujarnya.

Dia menilai wajar jika ada oknum atau pelaku bisnis lain yang tidak suka melihat akan berkembangnya Bank Syariah di Indonesia dengan cara menyebarkan isu hoax kepada masyarakat. “Saya yakin dengan bertambahnya modal Bank Muamalat justru akan semakin membangkitkan kembali gairah perekonomian syariah di Indonesia,” ucap Vasco.

Diketahui saham mayoritas PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) resmi diambil oleh PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Sebelumnya, saham mayoritas bank syariah pertama di Indonesia ini dikuasai oleh pemodal asing.

Sebelum dibeli Minna Padi, tercatat sebanyak 32,7 persen saham dikuasai Bank Pembangunan Islam (IDB). Sementara, 19 persen dan 17 persen lainnya dipegang oleh Atwill Holdings Limited dan National Bank of Kuwait.

Bank Muamalat lahir berdasarkan inisiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1991. ICMI, kata Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie, mendukung kebijakan pemegang saham dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan.

“Saham kami (MUI dan ICMI) sudah kecil sekali di Muamalat, jadi kami tidak punya kekuasaan untuk mengambil keputusan. Tapi, yang kami harapkan pemegang sahamnya dalam negeri karena sebelumnya dibeli asing,” kata Jimly.

Berbagai aksi korporasi yang dilakukan BMI, kata Jimly, diharapkan dapat mendorong kinerja bank menjadi lebih baik lagi. Ia berharap kinerja BMI yang semakin baik dapat berkontribusi dalam mendorong kemajuan industri keuangan syariah di Indonesia. “Sejak awal kami inisiasi pembentukan BMI memang untuk dakwah dan membesarkan keuangan syariah,” kata Jimly.(OTK)